BANDUNG – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Dedi Aroza, melontarkan kritik tajam terhadap klaim keberhasilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menurunkan angka pengangguran terbuka pada tahun 2025.
Dedi menilai, klaim yang disampaikan Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, perlu dikonfirmasi ulang melalui validasi metodologi yang lebih transparan.
Kritik ini mencuat merespons pernyataan pers Wagub Jabar pada Senin (30/3/2026) yang menyebutkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jabar berhasil ditekan ke angka 6,66%, melampaui target yang ditetapkan.
Pertanyakan Metodologi Sampling
Dedi Aroza menekankan bahwa data makro yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) maupun data sektoral dari Dinas Ketenagakerjaan harus dilihat secara komprehensif, mengingat luasnya wilayah Jawa Barat.
“Jawa Barat itu luas, bukan hanya Kota Bandung atau Kabupaten Bogor saja. Saya minta metodenya dicek lagi, samplingnya harus terlihat. Kalau metodenya sudah benar dan pas, ya bisa jadi.
Tapi jika angka pengangguran di daerah seperti Kabupaten Bogor saja masih tinggi (mencapai 220 ribu jiwa) per-bulan April 2026, ini menjadi pertanyaan besar,” ujar Dedi saat dihubungi awak media, Jum’at (10/04/2026).
Menurut politisi daerah pemilihan (dapil) Kabupaten Bogor ini, disparitas angka pengangguran di wilayah penyangga seperti Bogor yang masih sangat tinggi berbanding terbalik dengan narasi kesuksesan yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi.
Dorong “Peta Jalan” yang Jelas
Lebih lanjut, politisi PKS tersebut mendesak Pemprov Jabar untuk tidak hanya terjebak pada angka statistik, melainkan fokus pada strategi jangka panjang atau road map (peta jalan) pengentasan pengangguran yang lebih konkret. Ia menyoroti pentingnya integrasi antara kemudahan investasi dengan penyerapan tenaga kerja lokal.
“Harus ada strategi yang berjalan. Pemerintah mengklaim ada kemudahan investasi, pertanyaannya apakah warga Jawa Barat sudah bisa bekerja di sana? Investasi harus menjadi strategi mengatasi kemiskinan,” tegasnya.
Dedi memberikan contoh potensi besar di kawasan ekonomi seperti Rebana (Cirebon, Indramayu, Majalengka) dan pelabuhan Patimban di Subang. Menurutnya, kawasan-kawasan tersebut harus mampu merekrut masyarakat sekitar agar efek investasi dirasakan langsung oleh warga lokal.
“Saya pernah lihat di Indramayu, ada pabrik pembuat gelas untuk merk global seperti Starbucks. Itu hebat. Kalau kawasan Patimban dan Subang ini dikembangkan terus dan benar-benar merekrut masyarakat Jawa Barat, barulah kita bisa berharap pengangguran menurun secara nyata,” tambahnya.
Klaim Pemprov Jabar
Sebelumnya, Wagub Jabar Erwan Setiawan mengklaim bahwa kinerja tinggi Pemprov Jabar (skor 3,6672) telah berhasil menurunkan penduduk miskin menjadi 6,78% dan pengangguran ke level 6,66%.
Penurunan ini diklaim terjadi berkat penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, pendidikan, serta akomodasi makan dan minum.
Meski demikian, bagi Dedi Aroza, advokasi pendidikan dan persiapan tenaga kerja harus terus diprioritaskan agar masyarakat Jawa Barat tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus investasi yang masuk ke tanah Pasundan.








